Minggu, 07 Oktober 2018

Ayah

                                         AYAH
                                                                By: Janurlia Hy
Ayah ...
Terimakasih untuk segala kasih yang kau beri
Terimakasih untuk segala pengorbananmu
Terimakasih untuk segala suka yang tercipta
Terimakasih ayah ...

Ayah ...
Maaf aku yang terkadang melupakanmu
Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu
Maaf aku jika nanti penyebab beratnya hisabmu
Maafkan aku ayah ...

Ayah ...
Aku janji kelak akan membahagiakanmu
Aku janji tak akan mengecewakan
Aku janji, tapi maafkan aku belum bisa mengwujudkannya

Love Ayah

Jumat, 06 Juli 2018


ASING

        By : Janurlia Haryanti

Menjadi orang  yang diasingkan bukanlah keinginan setiap orang, tetapi itu merupakan suatu ketetapan yang  harus diterima oleh diri. Diasingkan mungkin saja dikarenakan ketidaksukaan orang lain terhadap kita atau bisa jadi kekurangan pada diri kita yang tak bisa untuk orang tersebut menyamakan levelnya dengan kita.

Menjadi seseorang  yang asing dan terasingkan tidaklah mudah. Karena sesungguhnya  pengasingan didunia hanyalah ujian hidup, jika kita tidak tahu akan hakekat ujian tersebut,  kita tidak akan pernah betemu dengan namanya kebahagiaan bahkan senyum yang hadir pada diri kita hanyalah suatu kepalsuan yang mana kita dapat menipu orang lain dengan hati yang menangis deras.

Setiap perjalanan hidupyang dilalui sudah menjadi kesinambungan dengan kata asing dan diasingkan. So, kita tidak perlu khawatir dan takut dengan pengasingan yang bersifat duniawi ini. Pengasingan akan terus berlangsung hingga kita tiada walaupun bukan kita lag menjadi tergetnya. Dan bukan kita sendiri saja mengalami pengansingan bahkan setiap orang dalam hal apapun nantinya juga akan terasa asing meskipun dulunya dia yang mengasingkan.

Hidup didunia ini tidak selamanya akan sama. Sama halnya dengan umur, setiap orang tidak akan tetap muda meskipun melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kemudaannya, yang namanya tua itu akan tetap tiba. Nah begitulah siklus yang akan dihadapi oleh setiap insan yang ada di dunia ini. Buat kamu yang terasingkan dan diasingkan tetap tegarlah, teruslah senyum karena ujian yang menimpamu tidaklah seberapa. Dan buat kamu yang suka mengasingkan orang lain, ingatlah! SUATU WAKTU GILIRANMU AKAN SAMPAI JUA.

Selasa, 26 Juni 2018

Hikmah Sebuah Pertemuan




Setiap orang yang kita temui pasti ada suatu pelajaran dan hikmah untuk bisa kita ambil dari mereka. Baik itu buruk maupun baik. Kenapa? Kerena jika mereka baik kita dapat meniru tingkah laku dan perbuatan mereka. Jika mereka tidak baik, kita bisa menjadikan hal tersebut sebagai contoh agar kita tidak mengikuti prilaku yang sama atau melakukan hal yang serupa.
Oh iya aku pernah bertemu salah seorang mahasiswi kalau tidak salah  jurusan pendidikan agama islam(PAI). Saat itu perkulihanku telah usai tepatnya jam sepuluh kurang di hari sabtu. Nah tiba-tiba aku dihampiri olehnya dan berkata.
Dia : kak mushollanya kok tutup ya?
Aku : oh kurang tahu juga, biasanya kalau ada kegiatan mushollanya buka. Tergantung yang megang kunci mushollanya juga sih
Dia : oh gitu ya kak,  kakak jurusan apa?
Aku : kimia. Jurusan apa? (tanpa kata kamu)
Dia : PAI kak.
Aku : ooh
Dia : kak waktu dhuha sampai jam berapa ya  ?
Aku : *Subhanallah* (dalam  hati). Sebelum masuk waktu dzhur, jam 11:45 masih bisa  kok.
Dia : oh iyalah kak, duluan ya kak.
 Nahhhh itu merupakan salah satu contoh orang yang kita bertemu dengannya tanpa disengaja dapat memberikan kita suatu ilmu atau kesadaran. Dimana sholat dhuha merupakan suatu sunnah Rasulullah yang merupakan kunci dari kesuksesan. Meskipun terkadang kita mengetahuinya tapi sangat jarang sekali untuk kita lakukan.
            Untuk itu ambillah hikmah setiap orang yang kita temui baik disengaja ataupun tidak, yang mana itu akan sangat bermanfaat terutama buat diri kita sendiri.
J J J J

Hujan


                                                                                                                               By:Janurlia Haryanti


Hujan  ..
Mengapa Kau tak pernah bosan jatuh kebumi?
Apakah kau tidak merasakan sakit?
Aku yakin itu sangat sakit bukan ?
Tapi mengapa? Tolong berikan aku alasanmu!

Hujan ...
Dengarkan aku bercerita
Kehidupan dibumi sangatlah kejam
Berbeda jauh dengan situasi tempat tinggalmu
Penuh kedamaian tanpa ada usikkan
Hujan ...
Sekarang aku tahu
Kau turun atas perintah Rabb ku
Kau datang dengan membawa sejuta manfaat
Kau pergi dengan suatu kemustahilan

Hujan ...
Kau menjadi sebab timbulnya pelangi
Kau menjadi sebab suburnya tumbuhan dibumi
Kau begitu sempurna untuk ku jelaskan
Terimahkasi hujan

Rabu, 21 Februari 2018

Bagaimana mungkin?

Kehidupan didunia ini masing-masing memiliki sepasang sangat bertolak belakang.
Bagaimana mungkin kita menginginkan keindahan saja sementara ke jelek kan itu ada?
Dan bagimana mungkin kita menginginkan keberuntungan saja sementara kemalangan itu ada?
Dan bagaimana mungkin lagi jika kita menginginkan kesempurnaan sementara kekurangan itu ada?
Dan kadangkala masih banyak lagi kata bagaimana mungkin yang sulit untuk kita terima.
Dan untuk menanggapi kata bagaimana mungkin itu semua,  pondasi nya tergantung pada diri kita masing-masing. Jika pondasi itu kokoh,  apapun yang datang dan kita terima, itu tidak akan membuat pondasi itu runtuh ataupun jatuh.
Tapi...jika pondasi itu lemah maka sedikit saja datangnya kekacauan maka pondasi akan roboh. Begitulah kiranya analogi dalam kehidupan dunia yang bersifat fana ini.
Hingga kita ditempatkan yang namanya surga dan neraka.
Jika surga kita hanya merasakan manis.
Jika neraka kita hanya merasakan pahit.
Dan bersabarlah terhadap apapun yang kita terima dan kita hadapi didunia ini😃😉

Senin, 08 Januari 2018

Hukum memakai pakaian berwarna-warni

BOLEHKAN SEORANG MUSLIMAH MENGENAKAN PAKAIAN BERWARNA-WARNI???

            Sebagian orang menganggap bahwa wanita muslimah hanya boleh memakai pakaian hitam atau gelap saja. Kadang mereka merendahkan para muslimah yang memakai pakaian berwarna selain gelap, betapa pun jilbabnya dan baju kurungnya begitu lebar dan panjang sempurna, dan mereka tetap menjaga diri dan kehormatannya. Seolah wanita-wanita ini kurang shalihah dan ‘iffah hanya karena masalah warna pakaiannya. Sikap tersebut adalah ghuluw (berlebihan) dan tidak benar, serta bertentangan dengan fakta sejarah yang dilalui wanita-wanita terbaik umat ini pada masa awal Islam. Muslimah berpakaian warna hitam dan gelap, memang umum dipakai oleh wanita pada masa dulu, dan masa kini disebagian negara, tentunya ini memiliki keutamaan, tetapi mereka tidak terlarang memakai pakaian berwarna selain hitam dan gelap, seperti hijau, kuning, dan bermotif.

Sebelum kami sampaikan dalil-dalil, akan kami sampaikan sebuah ulasan bagus dari seorang ulama, yakni Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, katanya:

“Sesungguhnya pembuat syariat tidaklah membatasi warna tertentu bagi pakaian laki-laki dan pakaian wanita. Kadar perhiasan yang serasi pada pakaian tunduk pada tradisi kaum muslimin pada setiap negara. Dapat dimaklumi dan disaksikan pasa sekarang ini, dan di semua masa, bahwa hiasan atau warna yang berlaku di antara wanita mukmin pada umumnya dapat diterima oleh ulama mereka di suatu tempat, mungkin terasa aneh bagi kaum muslimin di tempat lain, dan mungkin mereka malah mengingkarinya. Sebagaimana warna dan model berbeda dari satu masa ke masa lain di satu daerah. Benarlah kata Imam Ath Thabari yang mengatakan, “… Sesungguhnya menjaga model zaman termasuk muru’ah (harga diri) selama tidak mengandung dosa dan menyelisihi model serupa dalam rangka mencari ketenaran.” (Fathul Bari, 12/424)

Berikut ini akan kami sampaikan beberapa atsar yang tsaabit (kuat) tentang para shahabiyah yang memakai pakaian dengan beragam warna.

Riwayat pertama: Warna merah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، أَنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ مَعَ عَلْقَمَةَ، وَالْأَسْوَدِ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَيَرَاهُنَّ فِي اللُّحُفِ الْحُمْرِ»، قَالَ: وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ لَا يَرَى بِالْمُعَصْفَرِ بَأْسًا

Berkata kepada kami Abu Bakar, katanya: berkata kepada kami ‘Abbad bin Al ‘Awwam, dari Sa’id, dari Abu Ma’syar, dari Ibrahim (An Nakha’i, pen), bahwa dia bersama ‘Alqamah dan Al Aswad menemui istri-istri Nabi ﷺ: mereka berdua melihat istri-istri nabi memakai mantel berwarna merah. Ibrahim An Nakha’i berpendapat tidak apa-apa pula memakai celupan ‘ushfur (warnanya merah, pen). (Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 24739)

Mujahid berkata:

أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرَوْنَ بَأْسًا بِالْحُمْرَةِ لِلنِّسَاءِ

Mereka (para sahabat nabi) tidak mempermasalahkan wanita memakai warna merah. (Ibid, No. 24740)

Ibnu Abi Malikah berkata:

رَأَيْتُ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ دِرْعًا، وَمِلْحَفَةً مُصَبَّغَتَيْنِ بِالْعُصْفُرِ

Aku melihat Ummu Salamah (Istri nabi) memakai baju pelindung dan mantel yang keduanya dicelup dengan ‘ushfur (warnanya merah). (Ibid No. 24741)

Al Qasim (cucu Abu Bakar Ash Shiddiq) berkata:

أَنَّ عَائِشَةَ، كَانَتْ تَلْبَسُ الثِّيَابَ الْمُعَصْفَرَةَ، وَهِيَ مُحْرِمَةٌ

Bahwasanya, Aisyah dahulu memakai pakaian hasil celupan ‘ushfur dan saat itu dia sedang ihram. (Ibid, No. 24742. Juga oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq, 2/137. Al Hafizh mengatakan: sanadnya shahih. Fathul Bari, 3/405. Juga Al Qasthalani dalam Irsyad As Sari, 3/111)

Fathimah binti Mundzir berkata:

أَنَّ أَسْمَاءَ كَانَتْ تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ، وَهِيَ مُحْرِمَةٌ

Bahwa Asma dahulu memakai pakaian yang tercelup ‘ushfur dan dia sedang ihram. (Ibid, No. 24745)

Sa’id bin Jubair bercerita:

أَنَّهُ رَأَى بَعْضَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ مُعَصْفَرَةٌ

Dia melihat sebagian istri Nabiﷺ thawaf di ka’bah sambil memakai pakaian yang tercelup ‘ushfur. (Ibid, No. 24748)

Perlu diketahui, bahwa pakaian jika dicelup oleh pewarna ‘ushfur (sejenis tanaman) maka biasanya dominannya adalah merah. Berkata Al Hafizh Ibnu hajar:

فَإِنَّ غَالِب مَا يُصْبَغ بِالْعُصْفُرِ يَكُون أَحْمَر

Sesungguhnya apa saja yang dicelupkan ke dalam ‘ushfur maka dominasi warnanya adalah menjadi merah. (Fathul Bari, 10/305. Darul Ma’rifah, Beirut). Seperti ini juga dikatakan oleh Imam Asy Syaukani. (Nailul Authar, 2/110)

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan kebolehan memakai warna merah bagi wanita muslimah. Bahkan itu dipakai juga oleh istri-istri Nabi ﷺ seperti Ummu Salamah dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhuma, dan ketahui oleh laki-laki yang bukan mahram mereka, bahkan ‘Aisyah dan Asma Radhiallahu ‘Anhuma memakainya ketika di luar rumah yakni ketika ihram.

Riwayat kedua: Warna hijau

Dari ‘Ikrimah:

أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ، فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ القُرَظِيُّ، قَالَتْ عَائِشَةُ: وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ، فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا، فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا، قَالَتْ عَائِشَةُ: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى المُؤْمِنَاتُ؟ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا.

Sesungguhnya Rifa’ah menceraikan istrinya, lalu mantan istrinya itu dinikahi oleh Abdurrahman bin Az Zubair Al Qurazhi. ‘Aisyah berkata: “Dia memakai kerudung berwarna hijau,” dia mengadu kepada ‘Aisyah dan terlihat warna hijau pada kulitnya. Ketika datang Rasulullah ﷺ saat itu kaum wanita sedang saling membantu di antara mereka. ‘Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat seperti apa yang dialami para kaum mu’minah, sungguh kulitnya lebih hijau (karena luntur, pen) dibanding pakaian yang dipakainya.” (HR. Bukhari No. 5825)

Kisah shahih ini menunjukkan kebolehan memakai warna hijau, dan ini pun juga diketahui oleh Nabi ﷺ.

Riwayat ketiga: kombinasi hitam dan merah

Sakinah berkata:

دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعًا أَحْمَرَ، وَخِمَارًا أَسْوَدَ

Aku dan ayahku menjumpai ‘Aisyah, aku melihat ‘Aisyah memakai baju pelindung berwarna merah, dan kerudungnya berwarna hitam. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf , No. 24748)

Riwayat keempat: motif warna warni

عَنْ أُمِّ خَالِدٍ بِنْتِ خَالِدٍ: أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ، فَقَالَ: «مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ» فَسَكَتَ القَوْمُ، قَالَ: «ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ» فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ، فَأَخَذَ الخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا، وَقَالَ: «أَبْلِي وَأَخْلِقِي» وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ

Dari Ummu Khalid binti Khalid: didatangkan ke Nabi ﷺ pakaian yang terdapat motif berwarna hitam kecil-kecil. Nabi bersabda: “Menurut kalian siapa yang pantas memakai pakaian ini?” Mereka terdiam. Beliau bersabda: “Panggilkan kepadaku Ummu Khalid.” Lalu didatangkan Ummu Khalid dan dia dibopong. Lalu Nabi ﷺ mengambil pakaian itu dengan tangannya sendiri dan memakaikan ke Ummu Khalid, lalu bersabda: “Pakailah ini sampai rusak.” Dan, pakaian tesebut juga terdapat corak berwarna hijau dan kuning. (HR. Bukhari No. 5823)

Kisah ini begitu jelas bolehnya muslimah memakai pakaian kombinasi beberapa warna atau bermotif warna warni, di sebutkan beragam warna motif, hitam, hijau, dan kuning. Bahkan Nabi ﷺ sendiri yang memakaikannya kepada Ummu Khalid. Jika ini terlarang pastilah Nabi ﷺ akan mencegahnya tapi justru Beliau yang memakaikannya sendiri. Wallahu A’lam

Berkata Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah Rahimahullah:

Sesungguhnya keserasian dalam perhiasan yang menghiasi pakaian, tidaklah menarik perhatian laki-laki, dan tidak disifati dengan tabarruj, karena tabarruj adalah apabila wanita mempertontonkan kecantikan dan keindahan dirinya sehingga dapat membangkitkan syahwat laki-laki. Ada pun jika pakaian memiliki pakaian yang indah tetapi tidak mencolok, dan dalam model yang indah tapi tidak menarik perhatian, maka model dan warna seperti ini dikenal dan dominan di kalangan muslimah. Semua itu tidak membangkitkan syahwat laki-laki, baik dari niat si wanita maupun dari pengaruh yang disebabkan oleh warna dan model pakaian-pakaian yang beraneka ragam. Ini merupakan perkara yang dapat disaksikan di beberapa negara Islam. Satu model dengan banyak warna tampak pada mala’ah Sudan dan pada pakaian wanita di perkampungan Siria. Sedangkan macam-macam warna dengan beragam model, tampak pada pakaian para mahasiswi yang sopan di kampus-kampus Mesir dan Kuwait. Kebanyakan mereka memakai pakaian dengan bermacam warna dan model, tetapi tetap terjaga oleh kesucian dan pemeliharaan diri, sehingga mereka dihormati dan dihargai. (Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 4, Hal. 352. GIP, Jakarta) Wallahu a’lam. (dakwatuna/usb)